Puisi

Gejolak Rindu dan Syukur
Resa Mai Linra


Bertahun-tahun sudah di perantauan,
Gejolak rindu merasuk dalam jiwa.
Gelora hati hendak menuju tempat pertumpahan darah.

 

Pundi-pundi rezeki dari rantau, jadikan rel tuk pulang.
Jarak dan lelah takkan membuatku lupa rumah.

 

Dekat langkah menuju rumah,
Besar hati tak sabar
Bertemu pemilik tubuh renta.

 

Bagai tumpahan madu,
Laksana di gerogoti kupu-kupu,
Gelora hati tiba di tempat pertama kali kaki berpijak.

 

Bulir bening mengalir haru.
Sukmaku berteriak.
Teriaki syukur.

 

Dekapan hangat tubuh tua renta
Keriput, sungguh menyayat hati.
Ku seka bulir bening di kelopak matanya.
Ku kecup hangat pipinya.
Beribu syukur tak terbendung.
Terima kasih, wahai Sang Pencipta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laporan Bacaan Kajian Prosa Fiksi.

Sumbangan Sastra Indonesia terhadap Pembangunan Negara Indonesia